Posted on

Pelajaran Berharga untuk Membangun Keluarga dalam Islam

Tujuan dalam membangun keluarga dalam Islam adalah mendapatkan SAMAWA yaitu sakinah, mawaddah wa rahmah. Allah telah menciptakan manusia berpasang-pasangan dengan seorang istri dan suami yang akan memiliki anak sholih dan sholihah.

Suami akan membutuhkan istri untuk menentramkan jiwanya dan mendapatkan keturunan. Sedangkan istri juga membutuhkan sami untuk memberikan nafkah dan membimbingnya menuju surga Allah. Keduanya saling melengkapi dan menyayangi.

Tips Membangun Keharmonisan Keluarga dalam Islam

Islam telah mengajarkan Kita untuk saling berbagi dan menyayangi satu sama lain, terutama keluarga dan kerabat Kita. Nah, berikut ini bentuk keluarga yang harmonis dalam Islam, antara lain:

  1. Membangun Keluarga Atas Ketakwaan

Sebuah keluarga hendaknya dibangun atas dasar agama dan kewajiban untuk beribadah kepada Allah. Dalam menjalani kehidupan berkeluarga juga harus ditanamkan ilmu-ilmu agama dan saling mengingatkan dalam hal kebaikan.

  1. Suami dan Istri Saling Melengkapi

Suami dan istri memiliki peran dan kewajibannya masing-masing, mereka harus saling melengkapi dan mengasihi. Seorang suami memiliki kewajiban untuk mencari nafkah bagi keluarganya, sedangkan istri mengerjakan pekerjaan rumah dan membantu suami dalam membimbing anak-anaknya.

  1. Meneladani Sikap Sabar, Mengalah dan Pemaaf

Keluarga dalam Islam juga harus saling meneladani sikap sabar, mengalah dan pemaaf terhadap pasangan dan anak-anaknya. Perlakukan keluarga Anda dengan baik dan saling menyayangi, seperti sabda Rasul di bawah ini.

Berbuat baiklah kepada para wanita. Karena wanita diciptakan dari tulang rusuk. Yang namanya tulang rusuk, bagian atasnya itu bengkok. Jika engkau mencoba untuk meluruskannya (dengan kasar), engkau akan mematahkannya. Jika engkau membiarkannya, tetap saja tulang tersebut bengkok. Berbuat baiklah pada para wanita”. (HR. Bukhari, Muslim)

  1. Menghindari KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)

KDRT adalah salah satu permasalahan dalam keluarga yang kerap kali terjadi karena berbagai faktor baik dari kesalahan istri atau suami. Dalam Islam, hal ini tentu saja tidak diperbolehkan, lalu bagaimana jika istri tidak menurut? Seorang suami bisa memberinya nasihat, jika tidak mempan bisa mendiamkan istrinya. Jika belum mempan juga, boleh memukul (tidak kasar) dan menghindari bagian wajah.

Teladan Kepala Keluarga dalam Islam

Dalam sebuah keluarga, terdapat pemimpin yang bertanggung jawab membimbing anggota keluarganya hingga selamat dari siksa neraka yaitu seorang Ayah. Tanggung ini sudah dijelaskan oleh Allah Subhanallahu Ta’ala dalam firman-Nya pada surat di bawah ini.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (QS. At-Tahrim : 6)

Berikut ini tanggung jawab dan teladan yang baik dari seorang Ayah dalam sebuah keluarga, antara lain:

  • Memberi Nafkah untuk Keluarganya

Seorang Ayah harus mampu memberikan nafkah untuk keluarganya dan menghidupi mereka. Hal ini juga termasuk kebutuhan makan, pendidikan atau sekolah dan kebutuhan hidup lainnya. Ayah juga bisa dibantu oleh istri yang ikut bekerja mencari nafkah untuk keluarga asalkan tetap mengerjakan tugasnya sebagai istri.

  • Mengajarkan Adab dan Ilmu Agama

Tugas kepala keluarga bukan hanya menghidupi kebutuhan hidup, seorang Ayah juga bertanggung jawab untuk mengajarkan adab dan ilmu agama. Ayah sebagai pemimpin keluarga juga wajib mengarahkan istri dan anak-anaknya untuk mengenal Allah Subhanallahu Ta’ala dan mematuhi segala perintah-Nya.

Menjadi kewajiban seorang muslim untuk mengajari keluarganya, termasuk kerabat, sampai pada hamba sahaya laki-laki atau perempuannya. Ajarkanlah mereka perkara wajib yang Allah perintahkan dan larangan yang Allah larang”. (HR Ath-Thabari, )

  • Mengajak Beribadah dan Kebaikan

Baik Ayah maupun Ibu sebagai keluarga dalam Islam juga mengajarkan untuk saling mengajak dalam kebaikan dan beribadah kepada Allah Subhanallahu Ta’ala. Hal ini juga diajarkan oleh Nabi seperti di bawah ini.

Perhatikanlah anak-anak Kalian untuk melaksanakan solat ketika mereka berumur 7 tahun. Jika mereka berumur 10 tahun, namun mereka enggan, pukul lah mereka”. (HR. Abu Daud, Ahmad)

Sedangkan seorang Ayah yang tidak disukai oleh Allah adalah yang tidak bisa memberikan teladan baik bagi keluarganya. Dalam hal ini, yaitu orang yang tidak memiliki sifat cemburu dan membiarkan keluarganya berbuat maksiat. Contoh maksiat yang dimaksud antara lain:

  1. Membiarkan istri dan anak-anaknya melalaikan solat
  2. Membiarkan anak-anaknya bergaul dengan lawan jenis yang bukan mahram
  3. Mengizinkan istri keluar rumah tanpa mengenakan jilbab

Jika hal ini terjadi di dalam keluarga dan Ayah sebagai pemimpin membiarkannya, keluarga pun akan hancur dan tidak mendapat rahmat. Permasalahan dalam keluarga akan terus bermunculan, bahkan bisa terjadi perselisihan hingga perceraian. Dalam hal ini, Anda bisa meminta bantuan Cumming Family Attorney untuk membantu menyelesaikan masalah keluarga dan menghindari perpecahan.